Kelambu di Tengah Banjir: Simbol Kepedulian yang Menyalakan Harapan Warga Aceh Timur

JMNtoday | Aceh Timur, — Di antara tumpukan bantuan logistik yang diturunkan dari tronton pada pagi itu, satu barang tampak sederhana namun sarat makna: kelambu. Bukan sekadar pelengkap bantuan, kelambu hadir sebagai simbol kepedulian terhadap keselamatan dan kesehatan warga pengungsian, terutama anak-anak, ibu hamil, dan lansia yang rentan terhadap penyakit malaria pascabanjir.
Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Timur memaksa ribuan warga meninggalkan rumah dan bermalam di posko-posko pengungsian dengan fasilitas terbatas. Di tengah kondisi tersebut, ancaman nyamuk liar menjadi kekhawatiran serius. Kehadiran kelambu menjadi bentuk perhatian yang tepat sasaran—memberi perlindungan nyata di saat malam-malam panjang harus dijalani dalam kelelahan dan ketidakpastian.
Bagi warga pengungsian, kelambu bukan hanya kain penutup tidur. Ia menjadi penjaga sunyi yang memberi rasa aman, nyaman, dan ketenangan, sekaligus menjaga kesehatan mereka dari ancaman penyakit. Bantuan kecil yang berdampak besar, terutama di tengah situasi darurat.
Rasa haru pun menyelimuti lokasi penyaluran bantuan. Salah seorang Keuchik dari Kecamatan Simpang Jernih tak mampu menyembunyikan emosinya saat menyampaikan ucapan terima kasih. Dengan suara bergetar, ia menyampaikan penghargaan mendalam atas perhatian yang dinilainya sangat tulus.
“Atas nama seluruh warga, kami sangat berterima kasih. Bantuan ini bukan hanya barang,” ujarnya lirih. “Ini adalah bukti bahwa kami tidak sendiri.”
Ia menegaskan bahwa bantuan tersebut tidak hanya menyentuh kebutuhan fisik warga, tetapi juga menjaga kesehatan serta martabat kemanusiaan masyarakat yang sedang tertimpa musibah.
Di tengah bencana banjir yang masih menyisakan duka dan tantangan, bantuan kemanusiaan terus mengalir dan kepedulian terus hidup. Pagi itu, bersama datangnya tronton logistik, harapan kembali menyala—harapan bahwa Aceh Timur akan bangkit, perlahan namun pasti, dengan semangat kebersamaan, solidaritas, dan kemanusiaan yang tak pernah padam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama