Air Mata dan Harapan di Tengah Reruntuhan Banjir Pantee Bidari



JNMtoday | Pantee Bidari, Aceh Timur —
Banjir yang melanda tiga desa di Kecamatan Pantee Bidari—Grong-Grong, Paya Peureulak, dan Pante Panah—menyisakan luka yang belum sempat sembuh. Air yang datang tanpa ampun bukan hanya merobohkan rumah, tetapi juga merenggut rasa aman dan masa depan banyak keluarga.

Hampir sebagian besar rumah warga hilang atau rusak berat diterjang arus banjir. Hari-hari kini dijalani di kamp-kamp pengungsian darurat, tanpa kepastian kapan bisa kembali pulang—karena rumah yang mereka sebut “pulang” tak lagi berdiri.

Di antara puing dan lumpur yang mengering, trotoar jalan berubah menjadi tempat berlindung terakhir. Badan jalan menjadi halaman rumah. Anak-anak, yang seharusnya bermain di pekarangan, kini berlarian di aspal panas dengan pakaian seadanya. Ratusan anak-anak bermain di tengah keterbatasan, tertawa kecil menutupi trauma yang belum mereka pahami sepenuhnya.

Di tengah situasi yang memilukan itu, kedatangan Bu Fitri, istri Pak Rocky, membawa lebih dari sekadar bantuan logistik. Ia membawa secercah harapan bagi warga yang nyaris putus asa.

Setibanya di lokasi, langkah Bu Fitri terhenti. Matanya berkaca-kaca menyaksikan langsung kehidupan para ibu di pengungsian. Seorang ibu muda terlihat mengayunkan bayi kecilnya, berusaha menenangkan tangis, sementara di sisi lain ia memasak dengan air seadanya, di atas tungku darurat, dengan bahan makanan yang sangat terbatas.

“Ini bukan sekadar kehilangan rumah,” ucap Bu Fitri lirih, suaranya tercekat. “Ini kehilangan rasa aman, kehilangan masa depan anak-anak.”

Tangisnya pecah saat menyaksikan anak-anak yang tidur beralaskan terpal tipis, sementara hujan dan angin masih mengintai. Tak sedikit ibu-ibu yang menunduk, menyeka air mata, menahan perih yang sama—perih sebagai seorang ibu yang tak mampu memberi lebih untuk anaknya di tengah bencana.

Bantuan yang disalurkan memang meringankan beban hari ini, namun perjuangan mereka masih panjang. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar makanan—mereka membutuhkan uluran tangan, kepedulian, dan solidaritas dari semua pihak.

Hari ini, mereka bertahan.
Besok, mereka berharap.

Dan harapan itu hanya bisa tumbuh jika kita bersama-sama peduli.

Mari ulurkan tangan.
Mari bantu anak-anak Pantee Bidari kembali tersenyum.
Setiap donasi adalah harapan hidup baru bagi mereka yang kehilangan segalanya.

Dari Pantee Bidari, Aceh Timur, laporan ini kami sampaikan, agar derita mereka tak tenggelam bersama surutnya banjir.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama