JMNtoday | Masih gelap ketika jarum jam menunjuk pukul 04.15 WIB, Sabtu dini hari. Kabut tipis menyelimuti Buket Itam, Darul Ihsan, Aceh Timur, saat rombongan Rocky Fondation mulai bergerak meninggalkan Posko Induk di kediaman Rocky. Di balik dinginnya pagi, ada tekad yang menghangatkan: menyampaikan bantuan logistik dan selimut bagi para pengungsi korban banjir bandang di Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Perjalanan ini bukan perjalanan biasa. Jalur panjang berkelok, tanjakan curam, dan jalanan rusak menjadi ujian pertama yang harus ditaklukkan. Alam seolah kembali mengingatkan betapa beratnya penderitaan warga yang kini terpaksa bertahan di pengungsian. Namun rombongan tak surut. Setiap kilometer yang dilalui adalah wujud nyata empati yang bergerak.
Cobaan datang di awal perjalanan. Salah satu mobil traga mengalami pecah velg, memaksa rombongan berhenti di tengah keterbatasan. Di saat genting itu, solidaritas berbicara. Dengan sigap, kendaraan tersebut langsung digantikan traga lain yang kebetulan hendak memuat cabai untuk distribusi ke Kota Idi. Tanpa banyak kata, bantuan harus terus berjalan. Waktu dan keselamatan korban tak boleh menunggu.
Medan semakin ekstrem saat memasuki wilayah pegunungan. Gelap perlahan berubah menjadi senja, lalu malam kembali turun. Di balik kelelahan para pengemudi, kelihaian dan pengalaman mereka menjadi kunci. Dengan kehati-hatian dan keberanian, rombongan terus menembus jalur sulit hingga akhirnya, pada pukul 21.30 WIB, kendaraan bantuan tiba di Desa Batin Wih Pongas, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah.
Setibanya di lokasi, suasana sunyi pengungsian seketika berubah. Wajah-wajah letih yang selama ini diselimuti kecemasan perlahan merekah. Selimut bukan sekadar penghangat tubuh, ia adalah pelukan di tengah dinginnya malam pegunungan. Logistik bukan hanya bahan pangan, ia adalah harapan untuk bertahan hidup esok hari.
Di mata para pengungsi, bantuan ini bukan dinilai dari jumlahnya, melainkan dari perjalanan panjang dan niat tulus yang menyertainya. Rocky Fondation kembali membuktikan bahwa kemanusiaan tak mengenal jarak, tak tunduk pada medan ekstrem, dan tak berhenti oleh kerusakan kendaraan.
Di tengah luka akibat banjir bandang, rombongan ini datang membawa pesan sederhana namun mendalam: kalian tidak sendiri.
Dan di balik gelapnya malam Bener Meriah, harapan kembali menyala—dibawa oleh tangan-tangan yang memilih hadir, saat yang lain mungkin hanya menyaksikan dari jauh.
Posting Komentar